Salah Kaprah Terkait Ritual Gunung Kawi : Sejarah, Fakta, Realita

Salah Kaprah Terkait Ritual Gunung Kawi : Sejarah, Fakta, Realita

Umumnya Gunung Kawi dikaitkan dengan tempat yang angker, suasana yang mistis dan pesugihan. Tetapi benarkah demikian?

 

Sejarah Gunung Kawi

Gunung Kawi bisa sedemikian populer saat ini tidak terlepas dari adanya makam keramat. Di sini terdapat makam Eyang Jugo yang bernama asli Kyai Zakaria, dan juga makam Eyang Raden Mas Iman Sujono.

Eyang Jugo, memiliki nama asli Kyai Zakaria II, dulunya adalah salah satu laskar pejuang Pangeran Diponegoro dalam melawan Belanda. Setelah Pangeran Diponegoro ditangkap letnan Gubernur Jendral Belanda, De Kock, Kyai Zakaria pun mulai berkelana. Suatu waktu beliau sampai di daerah Kesamben, Blitar.

Salah seorang penduduk lokal melihat beliau. Belum sempat ditanya, Kyai Zakaria langsung berkata, “Saya sajugo” yang artinya saya sendiri. Namun penduduk itu salah tangkap mengira Sajugo adalah nama beliau. Kyai Zakaria II pun tidak meralatnya, karena menurutnya lebih baik tidak menggunakan nama asli apalagi dirinya sedang diburu Belanda. Akhirnya Eyang Jugo menetap di Kesamben.

Semasa hidupnya Eyang Jugo banyak membantu masyarakat di sekitar dengan mengajarkan Islam dan juga menyembuhkan penyakit. Oleh karena itu mereka semua sangat menghormatinya. Kesaktian Eyang Jugo membuat banyak orang yang ingin menjadi muridnya. Salah satunya adalah Raden Mas Iman Sujono, yang mengunjungi padepokan Eyang Djoego dan menjadi muridnya. Belakangan Eyang Jugo mengangkat Iman Sujono sebagai orang kepercayaannya.

Sebelum wafat, Eyang Jugo berpesan ke R.M. Iman Soedjono agar dirinya dimakamkan di lereng Gunung Kawi, yakni di Desa Wonosari. Beliau wafat di padepokannya di Desa Sanan Jugo pada Minggu Legi malam atau Senin Pahing pada pukul 01.30 tanggal 1 Selo (Zulkhijjah)  1799 Dal ( kalander Jawa) atau 22 Januari 1871 Masehi. Dan sesuai wasiatnya jenazahnya di kebumikan di Wonosari pada Kamis 25 Januari 1871.

Iman Sujono kemudian juga berpulang lima tahun sesudahnya yakni Rabu Kliwon 12 Suro atau Muharram 1805 Jimawal, atau 8 Februari 1876 pada penanggalan masehi. Sesuai wasiat Eyang Jugo, Iman Sujono dimakamkan satu liang lahat dengan Eyang Jugo, karena sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sepenanggungan.

 

Peziarah Tionghua di Gunung Kawi

Dewa Guan Gong di salah satu kelenteng Gunung Kawi

Satu hal yang menarik adalah, Gunung Kawi banyak dikunjungi oleh orang Tionghua. Mereka datang bersembahyang dan juga berziarah makam. Padahal Eyang Jugo dan Eyang Iman Sujono adalah muslim, mengapa banyak Tionghua yang berziarah (padahal mayoritas orang Tionghua yang datang bukanlah muslim)

Keikutsertaan warga Tionghoa dalam lingkungan perziarahan di Pesarean Gunung Kawi sebenarnya dimulai dari seorang yang bernama Tan Kie Lam, atau dipanggil Pek Lam. Pada waktu itu ia sempat diobati dan disembuhkan oleh Eyang Iman Sudjono berkat air guci wasiat peninggalan Eyang Djoego. Kemudian, Tan Kie Lam pun ikut berguru di padepokan Gunung Kawi dan tinggal di sana. Ia mendirikan sendiri sebuah kelenteng kecil untuk sembahyang juga sebagai tempat untuk menghormati kedua almarhum gurunya.

Mungkin, yang membuat Pesarean Gunung Kawi ini terkenal bisa jadi karena banyak kisah sukses. Misalnya, ada seorang Tionghoa yang usahanya sedang terpuruk. Jadi diapun melakukan tirakat di Gunung Kawi. Konon selama semedi dia melihat banyak penjual talas atau sebutan lainnya bentoel. Sesuai nasehat dari juru kunci, akhirnya pengusaha itu memberikan merek Bentoel untuk rokoknya. Dan selanjutnya nama Ong Hok Liong, sebagai pendiri Bentoel menjadi sejarah.

Konon tidak hanya Bentoel. Taksi dengan logo warna biru juga didapat dari mimpi ketika pemilik sedang berada di Gunung Kawi. Atau cerita Lim Sioe Liong juga mengunjungi Gunung Kawi.

Selain mengikuti upacara ritual sesuai tradisi Islam-Kejawen yang dilakukan oleh para juru kunci makam, para peziarah Tionghoa juga melakukan ritual sembahyang ala Tionghua. Itu sebabna klenteng kecil yang dibangun Tan Kie Lam tidak mampu membendung bludakan peziarah Tionghoa.

Dengan sumbangan donatur dan dana yayasan, dibangunlah tiga buah kelenteng kecil yang letaknya lebih dekat lagi dengan makam.  Di bekas kelenteng kecil lama yang dibongkar, dibangun sebuah masjid letaknya berdekatan dengan kelenteng Tionghoa yang baru.  Masjid Iman Sujono yang megah ini, konon khabarnya juga sumbangan konglomerat nomor satu Indonesia, Liem Sioe Liong.

 

Kelenteng Dewi Kwan Im di Gunung Kawi

Kecuali dalam pendopo makam, hampir semua tempat di kompleks makam yang dikeramatkan oleh masyarakat Jawa, seperti Padepokan Eyang Iman Sujono, bekas rumah tinggal Tan Kie Lam, dan pemandian Sumber Manggis, semuanya juga diletakkan altar ala Tionghoa. Bahkan kedua Eyang mendapat julukan dalam bahasa Tionghoa. Eyang Djugo disebut “Twa Low She” yang artinya Guru Besar Pertama, dan Eyang Iman Soedjono dengan panggilan “Djie Low She” yang artinya Guru Besar Kedua.

Hasil akhirnya, sekarang kompleks pesarean Gunung Kawi menjadi tempat percampuran budaya dan ritual khas Jawa dan Tionghoa.

 

Ritual di Gunung Kawi

Jangan menganggap ritual di Gunung Kawi itu sangat kental dengan suasana sunyi, mistis dan seram. Sebetulnya jauh dari itu. Apalagi saat malam Jumat Legi, yang merupakan momen paling ramai. Masyarakat berbondong-bondong datang untuk memohon rezeki dan berkat.

Setelah jam 12 malam, para peziarah berjalan berlawanan arah jarum jam mengelilingi pendopo sebanyak tujuh kali, dengan setiap saat berhenti di depan pintu sisi utara, timur, selatan dan barat, sambil menghormat ke dalam makam.

Sementara itu, di dalam Pendopo Makam sendiri dipenuhi para peziarah  Jawa dan Tionghoa yang memiliki niatan khusus. Sambil membawa bunga dan kemenyan. Nantinya di dalam akan didoakan di depan pusara oleh para asisten juru kunci. Setelah doa dalam bahasa Jawa dan Arab dibacakan, para peziarah akan mendapat “bunga layon” (bunga yang sudah layu) yang sudah ditaburkan dari makam. Konon, bunga tersebut dipercaya membawa rezeki dan pengobatan. Bunga bisa dimasukkan ke kantong merah dan kuning. Yang merah biasanya cocok untuk ditempatkan di tempat usaha, sedangkan yang kuning digantung ditempat tinggal.

Selain berdoa sendiri-sendiri, juga ada paket ritual yang diadakan tiga kali sehari yang bisa diikuti oleh pengunjung, masing-masing pada pukul 10.00, pukul 15.00, pukul 21.00. Ritual ini dipimpin oleh pemimpin doa setempat dengan menggunakan sesajen untuk selamatan. Untuk mengikutinya, pengunjung perlu mendaftar dulu di loket. Untuk tarif, terpampang dengan jelas barang-barang apa yang diperlukan untuk selamatan yang diinginkan.

Secara umum Gunung Kawi tidaklah ada kesan angker bagi orang yang belum pernah pergi. Pada realitanya, di sini merupakan tempat ibadah dan ziarah yang selalu ramai. Apalagi mungkin di sini adalah satu-satunya tempat di mana adalah perpaduan budaya Tionghua dan Jawa sangat erat sehingga menciptakan pemandangan yang unik.

Untuk menuju lokasi Gunung Kawi, pengunjung dapat memulai perjalanan dari Kota Malang dengan melalui dua jalur, yaitu melewati Wagir atau Sukun. Biasanya kebanyakan memilih untuk melewati Wagir karena jarak tempuhnya yang lebih pendek.

 

Cerita Pesugihan yang Beredar

Ada banyak sekali cerita pesugihan yang meminta tumbal terkait dengan Gunung Kawi. Tidak dipungkiri, kita juga sering mendengar atau membaca terkait pesugihan di Gunung Kawi untuk mendapat kekayaan tetapi sebagai ganti harus memberikan tumbal nyawa.

Konon untuk melakukan pesugihan bisa dilakukan di area petilasan Eyang Djugo yang berada tidak jauh dari area makam. Untuk mencapainya harus menuruni jalanan curam yang dipenuhi tanaman bambu dan tanahnya yang licin. Ketika sudah sampai di tempat petilasan, mereka melakukan ritual semacam semedi di bawah pohon dewandaru selama 3 malam. Ritual dinyatakan berhasil jika daun dari pohon dewandaru gugur dan mengenai tubuhnya. Dan jika berhasil maka harus memberikan tumbal sesuai petunjuk juru kunci. Ada juga yang harus memberikan sesajen berupa kambing yang berbulu hitam. Konon semua itu bisa dilakukan apabila menemukan orang yang memang paham akan hal pesugihan ini. Dan konon biayanya pun tidak murah.

Terkait rumor pesugihan meminta tumbal ini memang begitu meluas sehingga tidak heran orang awam mengasosiasikan Gunung Kawi sebagai tempat angker dan mistis. Namun apakah benar praktek pesugihan meminta tumbal ada di Gunung Kawi? Saya rasa, itu tidak bisa kita yakin 100% bilang itu tidak ada.

 

KELAS ONLINE 30 HARI MENINGKATKAN LEVEL REJEKI

Silahkan bergabung digrup whatsapp untuk meningkatkan level kerejekian

Close Menu

KELAS ONLINE 30 HARI MENINGKATKAN LEVEL REJEKI

Silahkan bergabung digrup whatsapp untuk meningkatkan level kerejekian

WhatsApp Konsultasi Via WhatsApp